BERBAGI CERITA PERJALANAN KOPI PETANI HINGGA PASAR DUNIA LEWAT BISNIS KO-OPERASI DI KANTOR PUSAT ALIANSI KOPERASI DUNIA (ICA), BRUSSEL
02 Desember 2019


Koperasi (saya lebih suka menggunakan kata ko-operasi sebagaimana naskah asli Bung Hatta, Bapak Koperasi Indonesia), ko-operasi Indonesia berpangkal pada isi UUD 1945 Pasal 33 Bab Perekonomian Nasional sebagaimana menjadi Amanat Konstitusi Negara. Sebagaimana dipaparkan dengan jelas pemikiran Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia di dalam Buku 'Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun' tentang Gagasan & Pemikiran Beliau yang saya terbitkan ulang tahun 2015 yang lalu yang mana terdapat Bab yang menyertakan pidato koperasi Bung Hatta di kota Lausane di depan kongres Aliansi Koperasi Dunia yang dikenal dengan International Cooperative Alliance (ICA).

Saya mendengar dan telah berkomunikasi dengan Presiden ICA di tahun 2014 yang lalu berkat perkenalan oleh Menteri Koperasi & UKM RI, Sjahrifuddin Hasan dan selanjutnya menjadi bagian dari gerakan koperasi dunia ini.

Belakangan, saya cenderung lebih tertarik pada realitas ko-operasi di Indonesia yang masih berjuang untuk berada pada akses bisnis yang nyata dengan ikut mensejahterakan anggotanya. Melalui Coop Coffee, saya mencoba ikut berperan pada bisnis berprinsip ko-operasi untuk peningkatan kesejahteraan petani kopi Indonesia. Adapun, beberapa hal tentang bisnis ko-operasi masih terus saya dalami dan lakukan lewat pembelajaran/ benchmarking dengan koperasi-koperasi dunia seperti Rabobank, Friesland Campina, Credit Agricole, dan Zen-noh - JA Coop. Melalui perjalanan bisnis ke beberapa negara di mana koperasi-koperasi tersebut berada saya terus memperbaiki profil bisnis Coop Coffee.

Kesempatan melakukan perjalanan bisnis ke Swiss mengunjungi kantor Starbucks tidak saya sia-siakan untuk mengunjungi Kantor Pusat ICA di Brussel, Belgia sebagai bagian dari sharing koperasi kepada ICA dan tentunya bagian dari penyempurnaan skema bisnis Coop Coffee sekaligus berbagi cerita bisnis kopi yang telah dilakukan oleh Coop Coffee khususnya dalam 3 tahun terakhir.

Jauh sebelum hari kunjungan ke kantor ICA, saya telah berkomunikasi dengan Direktur Keanggotaan/ Membership Director ICA serta beberapa nama di kantor ICA melalui email sebagai bagian mengkomunikasikan maksud dan tujuan kedatangan Coop Coffee.

Alhasil, tanggal 1 Desember 2019, saya dan tim Coop Coffee tiba di kota Brussel lewat jalur darat setelah 5 hari di kota Paris bersama dengan Ketua Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI yang saya sapa dengan sebutan Bang Azrul serta Kepala Bidang Kemitraan Kementerian Koperasi & UKM RI yang saya sapa dengan Cak Latif. Kami pun telah melakukan kordinasi sebelumnya dengan pihak Atase Perdagangan KBRI di kota Brussel dan mendapat arahan untuk bermalam di Hotel Tangla di kota Brussel untuk keesokan harinya bersama staf dari KBRI bertemu di lobi hotel dan melanjutkan perjalanan kunjungan ke kantor pusat ICA.

Sesaat kami tiba, beberapa pengurus ICA dengan ramah telah menunggu kami di pintu utama kantor yang mereka sebut 'Cooperative House Europe' bernomor 105. Diskusi dan perbicangan serius pun berlangsung hampir 2 jam termasuk sesi minum kopi Bali yang telah kami sangrai sebelum perjalanan panjang ke Eropa dan telah dipersiapkan menjadi bubuk kopi untuk penyajian manual brewing.

Akhirnya, sesi foto-foto dengan masing-masing mengangkat secangkir kopi Bali mengakhiri kunjungan Coop Coffee ke Kantor Pusat ICA dan tentunya saya pun mengabadikan penyerahan Buku Koperasi Bung Hatta ke salah satu pengurus ICA dengan harapan bahwa di tahun-tahun mendatang, tulisan pidato Bung Hatta yang pernah beliau suarakan di sidang raya ICA puluhan tahun yang lalu dapat terulang lagi dengan sumbangsih nyata perkoperasian Indonesia untuk dunia.



*ditulis oleh Reza