BAGIAN PERJALANAN COOP COFFEE DI BELANDA: MENJAJAKI POTENSI PASAR KOPI INDONESIA DENGAN MAMPIR KE KANTOR PUSAT JACOBS DOUWE EGBERTS (JDE), AMSTERDAM
06 Desember 2019


Memasuki hari terakhir di Belanda setelah 3 (tiga) minggu di Eropa, siang ini kami sengaja berkunjung ke kantor pusat JDE di kota Amsterdam, sebuah perusahaan kopi asli Belanda yang sudah berdiri sejak tahun 1753 dan sangat populer dengan kopi kemasannya di Belanda.

Bersama dengan Atase Perdagangan Indonesia untuk Belanda, kami berdelapan tiba di lobi kantor JDE untuk menyampaikan rencana temu kami yang sudah diatur sebelumnya sebagaimana orang-orang Belanda sangat terkenal dengan buat janji sebelumnya: afspraak maken sebelum bertandang ke kantor orang lain.

Setelah melaporkan maksud kedatangan kami dengan menyebut nama yang telah kami hubungi sebelumnya untuk pertemuan hari ini, sekitar 10 menit di lobi kantor menunggu dengan dipersilahkan menikmati kopi Douwe Eghbert, kami langsung diterima oleh Manager CSR Program Commond Grounds JDE dan dipandu masuk ke ruangan rapat.

Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit dengan bergabungnya pula Manager Pembelian kopi internasional dan melalui informasi beliau ternyata potensi pasar kopi untuk JDE jauh lebih besar dari yang saya bayangkan sebelumnya setelah mengetahui bahwa ternyata JDE sudah menjadi perusahaan multinasional dengan mergernya saham-saham perusahaan-perusahaan ternama baik itu perusahaan kopi di Belanda sendiri hingga perusahaan F&B Eropa lainnya, New Zealand dan Amerika. Di akhir pertemuan saya cukup kaget mendengar bahwa JDE membeli kopi hingga 69 kontainer pe harinya untuk kebutuhan perusahaan. Memang, hampir 90% kebutuhan kopi JDE adalah kopi robusta yang mereka beli dengan harga di bawah harga pasar dan JDE menyampaikan bahwa mereka tidak ingin bersaing soal harga pembelian kopi. Prinsip mereka, mereka membeli kopi sebanyak-banyaknya dan tidak ingin bersaing dengan para pembeli kopi lainnya. Mereka menyampaikan saat harga kopi di lapangan masih mahal, mereka tidak membeli kopi namun saat harga kopi sudah turun dan sudah tidak ada pembeli kopi di lapangan, maka mereka siap memborong pembelian kopi.

Terakhir, kami pun dijelaskan singkat mengenai Program Common Grounds untuk Indonesia serupa program CSR untuk pemberdayaan petani kopi yang pelaksanaannya melibatkan NGO yang ditunjuk.

Pertemuan kami pun berakhir dengan sesi foto dan penyerahan souvenir dari Coop Coffee berupa kopi arabika Kintamani yang telah disangrai.

*ditulis oleh Reza