PETIK MERAH: AWAL PERJALANAN OLAH KOPI UNTUK DUNIA
1 Oktober 2019


Lokus (Lokasi fokus) program pemberdayaan Coop Coffee sejak awal adalah petani kopi IG Arabika Kintamani Bali. Keberadaan petani kopi dalam MPIG Arabika Kintamani Bali boleh dibilang lebih beruntung dikarenakan banyak perhatian dunia tertuju di Bali sehingga edukasi budidaya kopi, panen dan pasca panen kopi sudah mendapat informasi yang tepat.

Namun, secara umum, para petani kopi di Indonesia, juga termasuk petani kopi Bali sebenarnya secara turun menurun mengenal panen/ petik rajut/ rajutan atau di Bali lebih dikenal dengan istilah racut yaitu memetik kopi dari pangkal sampai ujung ranting kopi tanpa pemilihan keadaan buah kopi apakah sudah masak/ matang atau belum). Sebenarnya, prinsip memetik kopi atau panen kopi adalah sama dengan panen buah pada umumnya yaitu untuk mendapatkan hasil atau buah yang bermutu tinggi pastilah panen dilakukan untuk buah yang sudah dalam keadaan masak penuh atau matang pohon dan dalam konteks panen kopi maka buah kopi yang biasa disebut ceri kopi, hanya dipetik panen yang sudah berwarna merah penuh yang menandakan buah kopi sudah masak penuh. Terkadang atau tidak semua pohon kopi dalam satu cabang ranting pohon atau biasa disebut dompol menghasilkan tingkat kematangan buah kopi yang sama sehingga dalam hal ini, panen/ pemetikan buah kopi tidak bisa dilakukan serentak model rajut dalam satu tarikan dari pangkal sampai ujung dalam satu dompolan karena tingkat kematangan buah kopi dapat beragam. Untuk itulah diperlukan edukasi panen kopi PETIK MERAH untuk menghasilkan kualitas olahan kopi terbaik.

Dalam hal ini, sekali lagi, petani kopi Bali cukup beruntung dikarenakan sejak tahun 2000 dan seterusnya hingga terjadinya pendaftaran Indikasi Geografis pertama di Indonesia tahun 2008 untuk kopi arabika Kintamani Bali telah dilakukan edukasi dan pendampingan intens oleh pihak-pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah dan institusi dunia dalam rangka mengedukasi petani kopi Bali menjaga atau menghasilkan kopi bercitra rasa terbaik atau spesial melalui pemetikan buah kopi merah yang memang membutuhkan waktu, energi dan biaya yang lebih banyak dibandingkan melalui cara turun-temurun dengan racut.

Memang permasalahan di seputar menghasilkan cita rasa kopi terbaik BUKAN hanya soal petik merah, karena budidaya kopi sebenarnya sudah dimulai dari sejak mengolah tanah, menentukan bibit terbaik, pemupukan tanaman, pemangkasan atau pemeliharaan pohon kopi hingga penentuan tanam pohon pelindung atau peneduh tanaman kopi. Namun sebenarnya, kendala yang terbesar adalah faktor kemauan dan/ atau motivasi di belakangnya termasuk fakta atau keadaan yang sering kali menempatkan petani kopi dalam keadaan membutuhkan uang sehingga sering kali petani kopi harus 'merelakan' menjual kopinya sebelum buah kopi dalam kondisi matang atau siap dipetik merah. Hal inilah yang juga menjadi konsentrasi pemberdayaan Coop Coffee untuk MPIG Kintamani Bali.

Terlepas beberapa faktor yang mempengaruhi cita rasa kopi, dimulai awal tahun 2018, Coop Coffee bersama perusahaan kopi berbasis trading kopi dunia, PT Olam Indonesia, bersepakat untuk memulai sebuah percontohan di satu subak di wilayah MPIG Kintamani Bali untuk memberikan pelatihan di lapangan langsung untuk pemeliharaan pohon kopi hingga panen petik merah dengan komitmen membayar harga kopi lebih mahal untuk kopi yang dipetik merah serta diproses mengikuti Panduan olah kopi yang benar serta jaminan pembelian hasil beras kopi/ green bean. Belum lagi, kegiatan pemberdayaan ini mendapatkan dukungan lewat sinergi program dari kepala desa sampai kepala dinas pemberdayaan koperasi & UKM kabupaten hingga Bupati setempat.

Alhasil, telah dapat dibuktikan bahwa kopi Bali yang dihasilkan dari petik merah yang telaten memberikan nilai cita rasa kopi istimewa: specialty dan telah laku di pasaran baik lokal untuk kelas kedai kopi elite hingga pasar ekspor ke Amerika, Jepang dan Eropa.

Semua... (hanya) bermula dari komitmen petik merah!

*ditulis oleh Reza