CIRAD: CENTRE DE COOPERATION INTERNATIONAL EN RECHERCHE AGRONOMIQUE POUR LA DEVELOPPMENT/ THE FRENCH AGRICULTURAL RESEARCH CENTER FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT: TINDAK LANJUT HUBUNGAN KERJASAMA IG YANG TELAH DIMULAI TAHUN 2006 LALU
Rentang waktu 2006 - 2020


Membahas CIRAD : Pusat Kerjasama Internasional dalam Penelitian Pertanian untuk Pembangunan, sebuah institusi Perancis, tidak terlepas dari jejak peran CIRAD yang sejak tahun 2000 dalam hal inisiasi lahirnya sejarah Indikasi Geografis di Indonesia yang telah mempunyai dasar hukum Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 Tahun 207 tentang Indikasi Geografis (IG) memulai perjalanan proses pembentukan IG tersebut untuk pertama kalinya dengan lahirnya MPIG (Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis) Kopi Arabika Kintamani Bali bersama dengan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslit Koka) dengan fasilitasi Dinas Perkebunan Provinsi Bali.

Tim inisiasi dan peneliti telah mencicipi kopi arabika yang ditanaman di dataran Kintamani dan merasakan cita rasa jeruk pada kopi tersebut. Setelah beberapa kali melakukan pengambilan sampel cita rasa kopi dalam rentang tahun 2000-2006 tersebut, rasa jeruk pada kopi Kintamani tidaklah berubah. Hingga pada tahun 2007, cita rasa jeruk tetaplah ada dan akhirnya disepakai bersama untuk mengurus hak paten kopi arabika Kintamani dengan fasilitasi Pemerintah.

Berlatar belakang pada keberhasilan Perancis pada sistem AOC (The Appellation d'Origine Controlee) dan konsep 'terroir' yang menunjuk kepada keadaaan tanah/ geografis tertentu yang memungkinkan ciri khas produk pertanian khususnya pada aturan-aturan yang disusun untuk menjaga keaslian dan kekhasan produk wine Perancis, maka disusun pula Modul MPIG bagi kopi arabika Kintamani Bali yang secara garis besar memaparkan karakteristik daerah budidaya perkopian dengan ciri khas jeruk tersebut, tata cara budidaya serta pengolahan kopi serta penataan kelembagaan petani tradisional yang telah dikenal dengan Subak Abian hingga menyusun hal keterlacakan untuk memastikan keaslian kopi arabika Kintamani Bali sampai ke cangkir konsumen atau peminumnya.

Alhasil tahun 2008, untuk pertama kalinya keluarlah sertifikat serta Buku Modul IG produk pertanian Indonesia pertama yaitu untuk kopi arabika Kintamani Bali yang dalam hal dasar hukumnya dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan HAM RI. Dengan terbitnya Sertifikat tersebut, praktis, daya pemasaran kopi Kintamani Bali khususnya untuk pasar ekspor semakin tinggi. Selanjutnya, untuk terus meningkatkan penetrasi pemasaran yang telah dimulai, terbentuk pula Koperasi Tani MPIG Kintamani Bali yang seyogyanya beranggotakan seluruh petani kopi dalam kawasan IG Kintamani Bali serta kegiatan-kegiatan rutin setiap tahun yang diadakan baik oleh Pemerintah maupun pelaku bisnis kopi dalam upaya menjaga serta meningkatkan kualitas kopi arabika Kintamani Bali.

Namun, rupanya perjalanan geliat bisnis kopi IG bernomor IG: IDIG 000000001 tidak berjalan mulus hingga fakta berbicara di pertengahan tahun 2016 bahwa keadaan di lapangan membuktikan bahwa pelaksanaan Modul IG tidaklah berjalan seharusnya, kelompok petani dari puluhan subak abian yang terdaftar sudah tidak sepenuhnya melanjutkan budidaya kopi, proses pengolahan kopi di unit-unit pengolahan kopi sudah tidak berjalan bahkan yang nyata sangat terlihat sebagain besar unit pengolahan kopi sudah tidak berjalan, mangkrak ditelan waktu, penjualan kopi Kintamani Bali tidaklah secerah tahun-tahun awal, aktivitas Koperasi Tani MPIG praktis sudah tidak terjadi di level pengerjaan proses kopi dan pemasaran sebagaimana awalnya dan nama besar kejayaan Sertifikat MPIG Kintamani Bali tinggal kenangan bahkan keaslian serta cita rasa kopi arabika Kintamani Bali tengah dipertanyakan.

Mencermati fakta yang terjadi, saya mengkonsolidasikan kekuatan, pikiran dan program untuk melakukan semacam kegiatan membangun kembali kejayaan IG di masa lampau dan dalam hal ini kembali menapaki kenyataan di lapangan selama hampir 3 tahun bersama ribuan petani kopi dalam MPIG Kintamani Bali dan para pemangku kepentingan IG tersebut dan di tahun 2019 telah kembali terhubung dengan CIRAD, Perancis yang memang sebagai kelembagaan mempunyai kantor kerja di bilangan Kemang, Jakarta dan komunikasi intens dilakukan hampir 6 (enam) bulan dan akhirnya pada satu kesempatan di tanggal 7 Oktober 2019, Direktur Regional untuk wilayah kerja CIRAD di Asia Tenggara, meluangkan waktu bersama saya melakukan kunjungan lapangan 1 hari penuh ke wilayah Kintamani Bali termasuk mengunjungi salah satu tempat unit pengolahan kopi yang sudah terbengkalai dan memantau kebun kebun kopi di dataran Kintamani serta bertemu dengan sejumlah petani yang secara parsial masih melakukan aktivitas olah kopi dan pemasaran kopi untuk Starbucks Reserve dunia.

Berbekal hasil kunjungan di lapangan tersebut, komunikasi antara saya dan pihak CIRAD semakin intens termasuk membicarakan segala kemungkinan program untuk membangun kembali apa yang telah dimulai hingga akhrinya saya dan tim Coop Coffee melakukan kunjungan balasan sebagaimana Undangan kantor pusat CIRAD di Montpellier, Perancis di mana tanggal 27 November 2019 saya sampai dan diterima oleh beberapa periset di CIRAD termasuk salah satu periset yang pernah meluangkan waktu berbulan-bulan di Kintamani Bali di tahun-tahun awal kerja CIRAD dan Puslit Koka.

Tekad Coop Coffee dan CIRAD untuk tahun 2020 adalah melakukan pemutakhiran data IG dan secara khusus fokus pada melakukan sistem keterlacakan yang dapat dipertanggungjawabkan bagi pecinta/ konsumen kopi di seluruh dunia.

*ditulis oleh Reza