MENGUNJUNGI KANTOR STARBUCKS TRADING COMPANY DI LAUSANE SETELAH MENERIMA SALES CONTRACT STARBUCKS RESERVE UNTUK KOPI IG KINTAMANI BALI
21 November 2019


Jika mengulik geliat kopi di Indonesia dalam rentang waktu 2-3 tahun terakhir ini yang semarak dengan berjamurnya kedai- kedai kopi kekinian serta café-café kopi di mana-mana bahkan jika melihat kilas balik perkopian Indonesia ke 5- 8 tahun ke belakang, tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa minum kopi menjadi sebuah tren dan gaya hidup 'perkotaan' setelah maraknya Gerai Starbucks yang 'dibawa' oleh grup bisnis Mitra Adi Perkasa dari Amerika Serikat ke Indonesia. Otomatis, Starbucks boleh dibilang menjadi sebuah 'trend setter' bagi tren kopi di Indonesia bahkan jika diulas secara perkopian dunia, harus diakui bahwa Starbucks adalah 'kiblat' dan 'lambang' keberhasilan bisnis kopi dunia.

Namun jika pertanyaan-pertanyaan muncul pada apakah kopi Starbucks adalah kopi terbaik atau kopi terenak di dunia itu merupakan jawaban masing-masing pecinta kopi. Apakah Starbucks membuat bisnisnya laris dari segelas kopi? Itu pun masih harus dijawab dengan data penjualan yang akurat. Namun sekali lagi, kenyataan bahwa Starbucks telah memulai sebuah 'gelombang' perkopian pada menyajikan kopi dan menjajakan kopi lewat gerai modern, nyaman berfasilitas koneksi internet gratisnya adalah tidak dapat disangkal.

Belakangan, Starbucks membuka sebuah gerai dengan konsep baru yang mereka sebut Starbucks Reserve di mana mereka mulai concern terhadap istilah single origin coffee yang mengacu kepada asal kopi Arabika dari sebuah wilayah tertentu yang serangkaian proses pengolahannya harus mengacu kepada standar tertentu di mana dalam kasus Starbucks, mereka memperkenalkan acuan yang disebut C.A.F.E. Practices serta penyajian kopi Single Origin ini juga murni tanpa pencampuran dengan jenis/ wilayah yang berbeda.

Pun salah satu variabel yang beririsan antara standar C.A.F.E. Practices dan value Coop Coffee adalah sisi ekonomi atau income yang berpihak kepada petani di mana diharapkan segala ongkos atau biaya yang timbul dari produksi serta pengolahan kopi hingga ke cangkir konsumen harus memberikan kontribusi paling besar kepada petani kopi sebagai produsen sehingga dengan demikian dapat terjamin keberlangsungan bisnis atau perdagangan kopi yang berorientasi jangka panjang. Dan atas dasar itulah di awal tahun 2018, Coop Coffee memulai komunikasi dengan Starbucks untuk menjajaki peluang bisnis kopi bersama mulai dari penerapan standar bisnis yang mereka sebut C.A.F.E. Practices hingga kunjungan-kunjungan ke Farmers Support Center Starbucks dan segala komunikasi bisnis perdagangan kopi Single Origin yang dimulai dari kopi berbasis indikasi geografis pertama di Indonesia yaitu kopi Arabika Kintamani Bali.

Dan setelah menjajaki komunikasi serta 1 tahun uji coba penjuaan kopi Bali lewat salah satu trader kopi dunia maka di tahun 2019 untuk pertama kalinya, Coop Coffee melakukan ekspor kopi petani Bali langsung dengan entitas Coop Coffee untuk kopi IG Arabika Kintamani Bali untuk Starbucks Trading Company dari Bali (via pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya) ke Seattle, Amerika.

Satu bulan sebelum berangkatnya kontainer kopi Bali hasil petani kopi Bali dan proses kopi tim Coop Coffee, Coop Coffee mendapatkan undangan dan berkesempatan mengunjungi Kantor Starbucks Trading Company di kota Lausane dan untuk hal ini, Coop Coffee pun tidak lupa mengkordinasikan keberhasilan hal ini melalui Surat Formal kepada Duta Besar Republik Indonesia di negara Swiss.

Pada rangkaian beberapa hari kunjungan ke negara Swiss, tim Coop Coffee bersama Atase Perdagangan RI untuk negarra Swiss dan Konsuler Ekonomi bertandang bersama ke kantor Starbucks Trading Company di Lausane untuk membicarakan proses bisnis kopi khususnya pengalaman pertama mengekspor kopi pertama langsung dari Bali ke Amerika Serikat.



*ditulis oleh Reza